Memaksimalkan Kamera Ponsel secara Profesional

Tinggalkan Komentar

Saya bukanlah fotografer profesional, tapi sedikit demi sedikit saya belajar dari beberapa master fotografi yang sudah banyak membagi ilmunya kepada saya. Awal mula ikut klub foto di Yogyakarta yaitu Kelas Pagi Yogyakarta. Saya sama sekali belum memiliki DSLR. KPY tidak memaksa para siswanya memiliki kamera. Karena yang namanya belajar foto tidak harus punya kamera. Apalagi DSLR. salah satu pengajar di KPY mengatakan “Mau masuk sekolah pilot apa harus punya pesawat?”

Untuk bisa memotret, pertama harus melatih mata. Kedua mata harus jeli dalam mencari momen dan melakukan framing. Framing di sini yang agak susah, kebanyakan menggunakan jari yang dibentuk kotak untuk membuat frame. Frame membantu mengisolasi objek utama agar lebih terlihat jelas dalam sebuah foto. Framing dapat berasal dari cropping lensa atau dari benda disekitarnya.

Jika memotret menggunakan kamera ponsel memang terlihat kurang profesional, biasa saja dan tidak keren bagi sebagian besar pemula dalam fotografi. Namun, denga sebuah kamera ponsel 3,2 Megapixel saja anda bisa mendapatkan foto yang bagus. Tergantung bagaimana anda mengetahui seluk beluk dari kamera ponsel itu sendiri.

Lagi

Bermain dengan aplikasi efek kamera di Android.

Tinggalkan Komentar

Semua pasti sudah tahu dengan perangkat dengan sistem operasi Android. Asiknya android adalah aplikasi yang dimilikinya. Ada jutaan aplikasi mulai yang gratis maupun yang berbayar. Kali ini saya mencoba untuk bermain dengan beberapa aplikasi efek kamera di hp android. Meski dengan kamera 3 Megapixel, kita bisa menghasilkan beberapa foto artistik yang menarik. Berikut beberapa hasil fotonya:

Lagi

Fotografi Anak – Anak

Tinggalkan Komentar

Memotret anak kecil bukan hal yang mudah dalam fotografi. Anak kecil lebih sulit dipotret dibandingkan orang dewasa. Kebanyakan dari mereka susah untuk berpose, tidak pede, kurang dekat dengan fotografer, takut, banyak tingkah. Mulai dari anak yang berumur kurang dari 1 tahun hingga umur 6 – 8 tahun.

Pengalaman saya pertama kali memotret anak – anak. Pada awalnya sulit untuk mengarahkan gaya pada mereka, juga menyuruh mereka untuk senyum. Ada satu hal yang harus dilakukan oleh fotografer adalah bisa berkomunikasi dengan mereka. Jika beruntung, mereka bisa dekat dengan anda.

Nadira - Amira

Lagi

[DIY] Memperbaiki Flash YongNuo yang rusak.

2 Komentar

Kali ini berbicara tentang reparasi alat elektronik. Yap, flash Yong Nuo 460 Mk II milik adik saya tidak dapat menyala. Dari forum fotografi terbesar di Indonesia yaitu fotografer.net. Saya hanya mendapatkan bagaimana cara memperbaiki flash yang tidak dapat menyala dikarenakan karet tombol yang rusak.

Sebelumnya sempat membongkar bagian body yang berisi baterai dan mainboardnya. Sampai kesetrum kapasitor yang berisi listrik AC >_<

Setelah googling lagi. Akhirnya dapat di forum flikr dengan kata kunci “Yongnuo 460 II not firing”. Sumber dari sini, http://www.flickr.com/photos/52399749@N07/sets/72157626567794950/with/5649915871/ tentang cara memperbaiki YongNuo yang rusak. Tapi cara tersebut untuk flash yang kapasitornya mati.

Lagi

Fasilitas baru di Adobe Photoshop Lightroom 3

Tinggalkan Komentar

Kali ini me-review sebuah aplikasi yang sangat berguna di dunia fotografi yaitu Adobe Photoshop Lightroom 3 atau yang biasa disebut dengan LR (read: el-er). LR merupakan software katalog foto yang dapat dengan mudah mengimpor foto yang berasal dari media luar seperti kartu memori atau harddisk. Sistem katalog yang menurut saya sangat baik dan mudah dibandingkan katalog foto lainnya. Karena LR memberikan fasilitas backup juga pemeriksaan foto saat melakukan impor.

Tidak semua foto dapat dikatalogkan oleh LR. Apabila foto telah masuk katalog, maka foto tersebut diduga memiliki duplikat sehingga tidak dapat di impor ulang. Pada versi sebelumnya LR hanya melakukan impor dan memilih foto yang memiliki duplikat lalu meminta pengguna untuk melakukan pembatalan (pada daftar foto yang memiliki duplikat) atau mengganti namanya. Tapi untuk LR3, sudah tidak ada lagi. Foto yang berasal dari removable disk yang telah diimpor ke komputer, tidak akan bisa di impor lagi. Lagi

Commercial Advertising Photography Seminar

Tinggalkan Komentar

Akhirnya sudah memasuki hari kedua seminar fotografi komersial dimana pada hari kedua ini, sudah memasuki bagaimana produksi iklan tersebut. Sebelumnya dihari pertama, peserta seminar hanya mendapatkan penjelasan tentang bagaimana marketing advertising tersebut, dan bagaimana bentuk dari briefing terhadap fotografer.

Anton Ismael foto by: panitia Applause #1 KPY

Dihari kedua ini, lebih menunjukkan bagaimana rumitnya proses pemotretan untuk sebuah iklan yang langsung diajarkan oleh Anton Ismael. Yang mana merupakan fotografer iklan terkenal di Indonesia (cek di sini untuk  melihat iklan yang telah beliau kerjakan). Sesi pertama sebelum makan siang diisi materi tentang pencahayaan dan sifat – sifat dari berbagai cahaya buatan. Selanjutnya setelah break langsung menuju ke lapangan untuk melihat proses produksi pembuatan iklan, sesuai dengan layout dan petunjuk yang tertulis pada briefing.

Ternyata proses tersebut tidak semudah yang kita kira, butuh waktu sekitar 1 – 2 jam lamanya. Ada beberapa aspek yang harus didapatkan disini yaitu. Objek utama, objek tambahan dan background. Selain itu ada beberapa foto tambahan diluar sesi pemotretan yang dijadikan stok foto untuk melengkapi atau memperbaiki foto iklan tersebut.

Objek utama merupakan bintang iklan yang jadi pusat perhatian konsumen. Harus di potret sebanyak mungkin karena setiap pose yang dilakukan tidak selamanya bagus. Dan tidak semuanya sesuai dengan apa yang diinginkan client dan agency. Terkadang fotografer juga harus melakukan improvisasi terhadap objek fotonya.

Proses Pemotretan Iklan

Objek tambahan disini adalah objek – objek yang nantinya akan ditambahkan dipemeran atau talent. Untuk memudahkan biasanya memotret ulang objek tersebut tanpa talent. Objek tambahan ini seperti rambut, asesori dan sebagainya. Yang akhirnya nanti akan digabungkan dengan foto objek utama.

Foto background. Sangat dibutuhkan sebagai backup. Dengan adanya stok foto background Digital Imaging  Artist akan semakin mudah dalam memperbaiki foto yang ada. Seperti memindahkan posisi objek utama, melakukan edit pada objek tambahan. Juga mengatur kondisi cahaya ambience. Dalam pemotretan ini, posisi kamera dan fokusnya fix pada satu titik.

Hingga akhirnya terpilihlah beberapa foto untuk selanjutnya di edit lagi karena masih kurang sempurna alias masih mentah. Nantinya beberapa foto pose terbaik masing – masing talent akan dijadikan satu dan dilakukan perbaikan terhadap background juga.

Materi Digital Imaging selanjutnya akan dijelaskan pada hari terakhir Seminar Applause #1 KPY pada Minggu 29 Mei 2011.

Full Workshop on May..

Tinggalkan Komentar

Yap.. seperti di judulnya… bulan ini penuh dengan workshop menarik yang perlu diikuti walau saya hanya mengikuti beberapa workshop saja. Dua workshop menarik yang telah saya ikuti yaitu Mix Lighting dengan mas Gde Wira Brahmana dan Foto Fesyen, Komersial dan Olah digital bersama Darius Manihuruk dan Rio Satrio.

Keduanya sangat berbobot dan menarik untuk diikuti terutama bagi yang ingin benar – benar menguasai fotografi dan mempelajari beberapa teknik – teknik khusus yang dilakukan oleh seorang fotografer profesional. Dengan biaya yang bisa dikatakan tidak terlalu mahal bagi saya. Menurut saya sebandinglah dengan ilmu yang didapat, bahkan hasil dari ilmu tersebut bisa berkali – kali lipat dari uang pendaftaran. Dengan catatan, ilmunya digunakan dengan sebaik-baiknya.

Sharing foto dengan orang – orang yang benar – benar pada jalan yang benar lebih menarik daripada sharing foto dengan orang – orang yang terlalu terpaku pada text book. Simpel saja, kebanyakan ‘fotografer’ hanya mengambil gambar bukan membuat gambar (Take photograph.. not Create photograph).

Lagi

Pentamirror vs Pentaprism

Tinggalkan Komentar

Khusus untuk kamera single lens reflex (SLR) yang mana bagian ini merefleksikan cahaya yang masuk agar dapat dilihat di viewfinder. Itu lah kenapa dikatakan sebagai kamera SLR. Karena hanya ada satu jalan untuk cahaya yang masuk ke kamera dimana hasil tangkapan gambar = apa yang kita lihat di viewfinder (INGAT! Viewfinder hanya mencakup kurang lebih 95% gambar yang tertangkap oleh kamera).

Berbeda dengan kamera sebelumnya seperti kamera twin lens reflex (TLR) yaitu menggunakan dua lensa untuk merefleksikan cahaya. Lensa pertama untuk viewfinder dan lensa kedua untuk film. Lain halnya dengan kamera rangefinder, pada kamera jenis ini viewfinder terletak diatas lensa utama. Untuk kamera jenis ini, biasanya jarang atau tidak ada yang menggunakan lensa zoom. Biasanya menggunakan lensa fix 50mm. (lensa 50mm memiliki sudut pandang sama dengan mata manusia). Kedua kamera di atas memiliki masalah pada paralaks, karena tempat melihat berbeda dengan tempat gambar dihasilkan.

SLR cross section

Lagi

Mentah atau Matang Seluruhnya?

Tinggalkan Komentar

Ini masih berhubungan dengan fotografi, bukan acara masak memasak tentunya. Saya baru menyadari hal ini setelah hampir 1 tahun menggeluti dunia fotografi. Biasanya menggunakan format JPEG untuk setiap foto yang saya rekam. Namun ternyata, menggunakan format RAW untuk foto akan lebih leluasa dalam koreksi kesalahan saat pengambilan gambar.

Memang, ukuran dari file RAW sendiri bisa mencapai 14MB berbeda dengan JPEG yang hanya sekitar 5- 6MB. Tapi ini kembali kepada kebutuhan. Jika foto tersebut untuk pekerjaan atau lomba. Saya lebih memilih untuk menggunakan RAW. Karena untuk meminimalisir terjadinya kesalahan eksposur dan pemilihan white balance di lapangan.

Mengapa berbeda dengan JPEG? Sesuai dengan judul di atas. JPEG adalah makanan yang sudah matang. Semua pasti tahu, jika makanan sudah matang akan sulit untuk dikreasikan lagi atau memiliki jumlah kreasi yang sedikit. Dibandingkan dengan makanan yang masih mentah. Yang masih bisa dikreasikan menjadi berbagai makanan lain.

Jika kamera anda memiliki RAW Processing. Anda dapat mengkonversikannya menjadi JPEG sekaligus mengatur WB, eksposur, dan style nya. Berbeda dengan JPEG yang hanya bisa menaikkan D-Lighting (pada Nikon) untuk meningkatkan eksposur dan itupun hanya 1 level. Juga hanya bisa memberikan filter effect.

Dengan bisa menguasai kamera yang dimiliki, saya yakin tanpa bantuan Ashop Photodobe pastinya bisa me-retouch foto yang sekiranya kurang bagus. Keuntungan lain dari RAW adalah melakukan Image Overlay. Yaitu menggabungkan 2 foto RAW menjadi satu. Sama halnya dalam memotret multi eksposur.

Pesan saya, jika baru memiliki kamera. Kuasai kamera beserta lensanya sebelum beranjak untuk menambah peralatan. Karena itu semua hanyalah ALAT (kata pak Agus Leonardus). Terlalu banyak peralatan juga akan menyulitkan dalam sesi pemotretan (selain susah membawanya. Juga dari segi keamanan sangat rawan).

maaf belum ada gambarnya. :)

Oh.. Tidaakk!!

Tinggalkan Komentar

Sepandai – pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Begitu pula pada sebuah kamera. Walau bentuknya begitu kokoh. Kalau yang namanya jatuh pasti ada bagian yang langsung tidak bekerja. Bagian luarnya mungkin saja lebih kuat, namun pada DSLR ada satu bagian yang benar – benar harus terjaga yaitu Shutter Curtain. Bentuknya seperti gambar dibawah ini.

Lagi

Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 895 pengikut lainnya.