Pentamirror vs Pentaprism

Khusus untuk kamera single lens reflex (SLR) yang mana bagian ini merefleksikan cahaya yang masuk agar dapat dilihat di viewfinder. Itu lah kenapa dikatakan sebagai kamera SLR. Karena hanya ada satu jalan untuk cahaya yang masuk ke kamera dimana hasil tangkapan gambar = apa yang kita lihat di viewfinder (INGAT! Viewfinder hanya mencakup kurang lebih 95% gambar yang tertangkap oleh kamera).

Berbeda dengan kamera sebelumnya seperti kamera twin lens reflex (TLR) yaitu menggunakan dua lensa untuk merefleksikan cahaya. Lensa pertama untuk viewfinder dan lensa kedua untuk film. Lain halnya dengan kamera rangefinder, pada kamera jenis ini viewfinder terletak diatas lensa utama. Untuk kamera jenis ini, biasanya jarang atau tidak ada yang menggunakan lensa zoom. Biasanya menggunakan lensa fix 50mm. (lensa 50mm memiliki sudut pandang sama dengan mata manusia). Kedua kamera di atas memiliki masalah pada paralaks, karena tempat melihat berbeda dengan tempat gambar dihasilkan.

SLR cross section

Continue reading

Shalawat Tarhim – Kumandang Shalawat Sebelum Adzan.

Mendengar shalawat ini saya jadi ingat kampung halaman (Tarakan). Namun saat ini, sangat jarang sekali saya mendengarnya di Kota ini (Yogyakarta). Bahkan hampir tidak pernah. Biasanya shalawat ini dikumandangkan sebelum adzan. Sebagai tanda bahwa waktu adzan akan tiba, sehingga kita bisa lebih awal menyiapkan diri untuk pergi ke masjid. Walaupun tidak dikumandangkan langsung oleh seorang bilal.

Namun, shalawat ini memberikan kesempatan agar kita dapat segera bersiap-siap untuk pergi ke masjid sebelum adzan berkumandang. Dari blog lain saya mendapatkan, shalawat ini merupakan puisi karya Syaikh Mahmud al Khusairi yang berisi puji – pujian kepada Rasulullah Muhammad SAW. Dan yang biasa diputar di masjid – masjid maupun mushola adalah lantunan Syaikh Abdul Aziz dari Mesir (Correct Me If I’m Wrong).

Continue reading

Mentah atau Matang Seluruhnya?

Ini masih berhubungan dengan fotografi, bukan acara masak memasak tentunya. Saya baru menyadari hal ini setelah hampir 1 tahun menggeluti dunia fotografi. Biasanya menggunakan format JPEG untuk setiap foto yang saya rekam. Namun ternyata, menggunakan format RAW untuk foto akan lebih leluasa dalam koreksi kesalahan saat pengambilan gambar.

Memang, ukuran dari file RAW sendiri bisa mencapai 14MB berbeda dengan JPEG yang hanya sekitar 5- 6MB. Tapi ini kembali kepada kebutuhan. Jika foto tersebut untuk pekerjaan atau lomba. Saya lebih memilih untuk menggunakan RAW. Karena untuk meminimalisir terjadinya kesalahan eksposur dan pemilihan white balance di lapangan.

Mengapa berbeda dengan JPEG? Sesuai dengan judul di atas. JPEG adalah makanan yang sudah matang. Semua pasti tahu, jika makanan sudah matang akan sulit untuk dikreasikan lagi atau memiliki jumlah kreasi yang sedikit. Dibandingkan dengan makanan yang masih mentah. Yang masih bisa dikreasikan menjadi berbagai makanan lain.

Jika kamera anda memiliki RAW Processing. Anda dapat mengkonversikannya menjadi JPEG sekaligus mengatur WB, eksposur, dan style nya. Berbeda dengan JPEG yang hanya bisa menaikkan D-Lighting (pada Nikon) untuk meningkatkan eksposur dan itupun hanya 1 level. Juga hanya bisa memberikan filter effect.

Dengan bisa menguasai kamera yang dimiliki, saya yakin tanpa bantuan Ashop Photodobe pastinya bisa me-retouch foto yang sekiranya kurang bagus. Keuntungan lain dari RAW adalah melakukan Image Overlay. Yaitu menggabungkan 2 foto RAW menjadi satu. Sama halnya dalam memotret multi eksposur.

Pesan saya, jika baru memiliki kamera. Kuasai kamera beserta lensanya sebelum beranjak untuk menambah peralatan. Karena itu semua hanyalah ALAT (kata pak Agus Leonardus). Terlalu banyak peralatan juga akan menyulitkan dalam sesi pemotretan (selain susah membawanya. Juga dari segi keamanan sangat rawan).

maaf belum ada gambarnya. πŸ™‚

Oh.. Tidaakk!!

Sepandai – pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Begitu pula pada sebuah kamera. Walau bentuknya begitu kokoh. Kalau yang namanya jatuh pasti ada bagian yang langsung tidak bekerja. Bagian luarnya mungkin saja lebih kuat, namun pada DSLR ada satu bagian yang benar – benar harus terjaga yaitu Shutter Curtain. Bentuknya seperti gambar dibawah ini.

Continue reading

Alhamdulillah…

Inilah yang selalu saya ucapkan. Apalagi setelah pengumuman juara lomba foto Pekan Fotografi Yogyakarta 2011 di Saphir Square. Suatu hal yang memang tidak saya harapkan bisa mendapatkan juara 3 lomba foto pada sesi ke 3. Padahal saat itu saya tidak yakin kalau bisa masuk nominasi. Entah itu hadiah hiburan, apalagi bisa dapat juara 3.

Awalnya ingin menulis diblog ini tentang sisa dari PFY2011. Beberapa foto yang masuk finalis pada sesi 1 dan 2. juga beberapa foto yang saya lombakan. Ingin saya bagikan disini.

SESI 1

Inilah yang saya lombakan pada sesi pertama lomba foto Pekan Fotografi Yogyakarta 2011. Salah satu foto masuk sebagai finalis pada sesi ke 1.

SESI 2

Foto – foto gedung Saphir Square yang saya lombakan, salah satunya masuk sebagai finalis juga.

SESI 3

Sesi yang lebih sulit dari sesi – sesi sebelumnya dikarenakan arah pemotretan hanya ada satu dan penglihatan pun terbatasi. Karena jumlah peserta yang begitu banyaknya. Tidak ada satupun foto yang masuk nominasi.

SESI 4

Sesi terakhir dari seluruh lomba yang dilaksanakan sejak 19 hingga 27 Maret. Salah satu foto mendapatkan juara ke-3

Terima Kasih

Kepada Allah SWT yang telah memberikan kelancaran selama lomba, dan kepada kedua orang tua dan keluarga saya yang selalu memberikan dukungan dan semangat. Hingga bisa mendapatkan juara. Serta kepada teman – teman yang juga mendukung saya selama ini. Tak lupa kepada rekan – rekan Kelas Pagi Yogyakarta khususnya Bude Nana, Mas Berto dan Mas Gde yang sudah membagikan ilmunya secara gratis kepada saya. Juga mas HendricΒ  yang ternyata masuk nominasi di Sesi 1.. selamat ya.. πŸ™‚ . Tanpa mereka semua, mungkin saya tidak bisa seperti ini.